26 Mei 2006
Jumat ini seperti hari-hari biasa. Lagi-lagi aku merasa mabok dan perutku makin membesar saja. Lucu, karena ternyata aku masih muat dengan pakaian2 lamaku dari jaman sebelum menikah. Everything as ‘normal’ as others day. Bangun pagi dengan telernya, dimana selalu suamiku yang menyediakan minuman pagi…teh anget. Beranjak ke mar mandi, the place I hate the most during my pregnancy. Mengeluarkan isi perut, yang sebenernya masih cukup kosong karena aku belum lagi menelan apapun. Yah, cukuplah membasuh tubuh seadanya untuk sekedar syarat bahwa aku pergi kerja dengan mandi.
Di kantor, sama saja. Tidak ada sesuatu yang menampakkan perubahan berarti. Hanya saja pagi ini aku membawa kardus susu hamilku yang baru dibeli semalam. Aku berniat mengkonsumsi susu ini karena sadar tidak cukup gizi yang aku asupkan ke dalam tubuh janinku karena rasanya hampir semua makanan ditolak oleh pencernaanku saat ini. Ya, susu ini kubawa ke kantor dengan harapan aku bisa meminumnya dalam keadaan dingin seperti es untuk mengurangi rasa eneg.
Sore hari, semunya serba rutin dan tertebak…Aku harus menunggu beberapa saat di luar kantor sebelum suamiku datang menjemput. Bahkan nampaknya semua satpam di kantor ini hapal aku selalu menjadi orang terakhir yang menunggu di luar.
Malam hari, lagi-lagi kami harus berpikir keras akan makan apa malam ini. Aku sudah menghentikan aktivitas memasakku setelah janin di perutku ini sepertinya menolak aroma2 bumbu2 itu. Lebih dari itu, aku sudah hampir tidak pernah menginjakkan kakiku ini di dapur kos kecuali untuk sekedar mencuci gelas yang hanya 2 biji.
Hal yang paling aku suka adalah tidur. Bahkan aku tidak lagi berminat pada televisi. Maka aku memutuskan untuk tidur setelah makan dan hanya tersadar sebentar ketika melihat suamiku ikut beringsut ke kasur setelah matanya lelah di depan televisi.
27 mei 2006
Pagi ini aku bangun lumayan lebih pagi dari biasanya. 05.30. Cepat2 mengeluarkan muatan kemihku dan berwudlu. Tidak perlu berlama-lama berada di kamar mandi, the place I hate the most pada saat ini. Setelah selesai sholat, aku membangungkan suamiku. Seperti biasa, perlu waktu extra untuk membuatnya beranjak dari kasur di pagi hari. Tapi ini sudah hampir jam 06.00, 05.50 tepatnya, jadi mau ga mau aku harus memaksanya lebih keras sampai akhirnya dia menuju kamar mandi dengan aktivitas yang pasti sama dengan yang aku lakukan sebelumnya. Entah kenapa, ia memutuskan untuk solat di ruang tamu, bukan di kamar seperti biasa. Dan seperti biasa, setelah bangun untuk sholat, aku kembali ke tempat favoritku, kasur, untuk bermalas2an sambil melawan rasa mual.
Sepertinya suamiku baru saja selesai mengenakan sarung, ketika tiba2 aku merasa kasurku ini terguncang. Aku cepat tersadar kalo ini gempa!Aku segera berlari ke ruang tamu dan mendapati suamiku sedang berusaha untuk membuka kunci pintunya. Semakin lama goncangan ini semakin keras saja, sampai rasanya sulit sekali melangkahkan kaki untuk menuju udara bebas. Ya Tuhan, belum pernah selama hidup aku merasakan yang seperti ini.
Seketika itu terbersit kilatan2 wajah2 orang yang aku sayangi….termasuk wajah seseorang yang belum pernah aku lihat dan tidak tau seperti apa wajahnya. Ya, janinku….Ya Tuhan, mudah-mudahan ia cukup kuat untuk berlari bersamaku, dan ia cukup kuat untuk menahan lapar selama beberapa waktu karena ternyata, keadaan lebih parah dari yang aku duga. Tidak ada warung yang buka, dan bahkan ternyata begitu banyak korban yang berjatuhan. Di jalanan aku melihat sendiri beberapa rumah rubuh, orang2 berselimut debu2. tapi untungnya aku tidak bertemu dengan korban yang bersimbah darah. Aku hanya tau bahwa memang ada korban seperti itu lewat suamiku ketika ia melintas ke arah jalan rumah sakit untuk mencarikan air minum buatku, karena galon di kos tumpah ruah karena goncangan.
Peristiwa ini bener-bener membuat shocked, tapi terima kasih Tuhan Engkau menggoncang bumiku di pagi hari ketika orang-orang sudah mulai terbangun dan belum pergi beraktivitas di luar rumah (kecuali beberapa tentu saja). Terima kasih Tuhan aku melalui ‘peringatanMu’ bersama orang tersayang. Aku bahkan tidak berani untuk ditinggalkan sekedar mengecek keadaan kamar. Baru kali itu aku merasakan ketakutan akan kehilangan yang teramat. Terima kasih Tuhan Engkau masih melindungi semua keluargaku meski ada yang terluka dan tempat tinggalnya retak dimana-mana. Terima kasih Tuhan….
26 mei 2007
Sudah hampir satu tahun sejak kejadian itu berlalu, dan akan selalu menjadi ‘moment in my life’….Tapi kenapa?kenapa masih saja ada orang-orang yang harus tinggal di tenda karena rumah mereka hancur?kenapa masih ada orang-orang yang terluka karena tidak mendapat pertolongan yang maksimal? Aku tidak menyalahkanMu Tuhan….AKu hanya bertanya, kenapa aku punya pemerintah yang ‘tidak jelas’. Kenapa aku tinggal di negara yang punya sisi buram banyak sekali untuk rakyatnya….Kenapa Tuhan?
7 Responses »