Tukang sensor Wednesday, Feb 6 2008 

Membayangkan kata sensor…..yang ada di kepala adalah hal-hal yang ‘dianggap’ tidak layak untuk tayang, baik dalam bentuk tulisan, foto, gambar bergerak, suara, whatever… Tidak akan kubicarakan tentang apa guna sensor, bagaimana persyaratan suatu hal harus kena sensor……ribettttt. Im just wondering about the people yang dipilih untuk melakukan sensor, dalam hal ini sensor untuk film yang kaitannya dengan hal yang dianggap bisa bikin greeennngggg oleh orang-orang yang akan menikmatinya nanti.

Seperti apa ya syarat tukang sensor itu? Mereka kan sebagai penyaring informasi ke masyarakat luas, jadi mereka sudah melihat, mendengar ’sampah-sampah’ informasi sebelum dibuang. jadi orang-orang seperti apa ya yang dipilih sebagai tukang sensor?Naaah, apakah mungkin ya mereka adalah orang-orang yang gampang merasa terangsang oleh suatu adegan syurr (yucks, bahasanya!!), jadi parameter mereka adalah klo mereka memang terangsang, brabti adegan itu harus disensor untuk menghindari masyarakat punya reaksi yang sama dengan mereka?hihihihihi. Mmhh…atau justru orang-orang itu adalah orang-orang yang ampuh, artinya mereka yang tahan godaan. jadi adegan apapun ga akan ngaruh ke area sensitif mereka, tapi mereka merasa wajib melindungi masyarakat lain yang mungkin tidak se’suci’ mereka?

Mmhh, manakah dari dua kategori itu yang lebih subjektif?hahahahahha…….itu sekedar kategori ngawurrrr!! Buat para tukang sensor, maafkan ya…..Itu tadi hanya sekedar pikiran cetek dariku sing ora mudheng bab sensor mensensorrrr……

Mahalnya Sebuah Kematian Tuesday, Jul 10 2007 

Semua kehidupan akan berakhir dengan kematian. Sesuatu yang tidak bisa bisa terduga kapan akan datang, tapi pasti datang…Perlukah kita mencemaskan kematian?Aku kira wajar bila kita takut akan hal itu, mengingat betapa mudahnya berbuat dosa dan sulitnya mengoleksi pahala (meskipun senyuman bisa berarti pahala, tapi apakah pahala kita itu seimbangan dengan dosa kita?mmhh….worried mood: on) dan mengerikannya gambaran tentang alam setelah kematian bila ternyata memang timbangan dosa kita lebih berat.

Dalam kaitan dengan dunia, kematian sebernarnya adalah putusnya hubungan dengan urusan keduniawian. Kita tidak bisa lagi mencemaskan pendidikan anak kita, kita tidak perlu lagi khawatir dengan pekerjaan kita yang masih menumpuk, kita tidak perlu lagi peduli dengan gunjingan tetangga, dan lain-lain. Tapi….bagaimana dengan orang-orang yang kita tinggalkan?ternyata, kematian kita tetap saja masih bisa menyisakan ‘beban’ bagi mereka. Dan ‘beban’ yang akan aku soroti kali ini adalah ‘beban yang paling sederhana’ yaitu pemakaman.Ternyata….the power of money masih tetap saja ada sampai kematian.

Berapa kali membaca orang-orang yang kesusahan membayar biaya pemakaman?seperti untuk membeli tanah 2meter persegi itu….sekarang harga tanah makin gila karena memang keberadaannya yang makin sulit ditemukan. Lihat di sini sebagai contoh bagaimana kematian bisa ‘ditukar’ dengan kehidupan. Belum lagi untuk sebuah budaya atau kepercayaan, seperti upacara Ngaben di Bali. Upacara pembakaran mayat yang dipercaya untuk melepaskan roh menuju nirwana. Proses upacara yang panjang dan memakan biaya itu membuat beberapa mayat harus menunggu sampai beberapa waktu untuk upacara tersebut. Bahkan di perkembangan sekarang, penantian itu pun berbuah dengan pembakaran massal agar biaya bisa lebih murah, karena ada informasi biaya yang dibutuhkan bisa mencapai 30 juta. Contoh lain adalah upacara pemakaman di Toraja yang membutuhkan biaya jauh lebih besar, karena pemakaman dilakukan di atas tebing. Menurut kepercayaan mereka semakin tinggi tebingnya, semakin cepat roh bertemu dengan Tuhan atau surga. Paket upacara itu adalah dengan disembelihnya hewan (bisa sampai ratusan ekor untuk bangsawan), peti lapis emas yang beratnya minta ampun, belum lagi bahwa harta-harta bergerak milik orang yang sudah meninggal itu harus dikburkan bersamaan dan tidak boleh diwariskan kepada keluarganya.  Semua prosesi itu bisa mencapai waktu 3 hari sampai 2 minggu.

Betapa sebuah kematian ternyata masih saja bisa membutuhkan uang…..

Presenting my “online diary”….. Friday, Jul 6 2007 

Ga nyangka juga kalo posting-anku tentang “kom on blog” di milis kom 98 terus menuai tanggapan beragam n menarik tentang blog. Jadi meresapi apa yang dibilang Ragil bahwa ada pendapat yang bilang bahwa blog adalah a precise mirror of narcissism dengan menampilkan ‘kegiatan’ harian penulis. Tapi benarkah aku adalah seorang yang narsis ketika aku bercerita bahwa ayla tumbuh gigi, bahwa aku merasa sedang capek? mmhh…rasanya aku keberatan dengan sebutan narsis itu meski aku setuju bahwa tulisan2 di blog ini berisi ‘kegitan’ harianku, baik kegiatan tubuh jasmaniku maupun kegiatan otak dan hatiku. Kegiatanku yang bisa berisi tentang aktivitas fisikku, pemikiranku tentang suatu hal, perasaanku tentang suatu hal…Ya, this weblog is my online diary dimana aku bisa shouting my mind….tentang apapun! But, I don’t think Im being narcist with it…:D

a simple word named ‘comfort’ Tuesday, Jun 12 2007 

jogja berhati nyaman….dengan mengabaikan bahwa itu adalah sebuah slogan akronim (tipikal orang Indonesia, suka akronim…bersih, sehat, indah, dan nyaman), it sounds really good to my ears

Semua yang kita lakukan, semua yang kita hadapi, semua yang kita rasakan, semua yang kita kejar…..terasa menyenangkan, enjoyable, indah….kalau kita merasa nyaman. I guess it’s a center of any hilarious.

Kenyamanan dalam sebuah hubungan. Dimana pasangan kita membuat kita merasa bisa berbagi apa saja, entah kebahagiaan, kesedihan, sisi gelap diri kita, cerita tentang sekitar kita, bahkan utnuk sekedar memberi tahunya kalau kita baru saja kentut. Kenyamanan ketika pasangan kita membuat kita merasa diterima tidak saja olehnya, tapi juga lingkungannya. Kenyamanan ketika pasangan kita meyakinkan kita bahwa penampilan kita tidak memalukan baginya, ketika pasangan kita membangun percaya diri kita, dan bukan meluluhkannya. Kenyamanan ketika ketidaktahuan kita tidak membuat kita merasa bodoh dihadapan pasangan kita. Kenyamanan ketika kita merasa bisa bertanya apa saja kepada pasangan kita tanpa merasa takut, mengintimidasi, atau khawatir akan munculnya kemarahan. Kenyamanan yang membuat kita selalu merasa aman bersamanya…..

Kenyamanan dalam pekerjaan. Dimana kita tidak pernah merasa terpaksa dalam mengerjakan tugas kita. Kenyamanan ketika kita bisa mengeluarkan eksistensi dan tanggung jawab kita tanpa takut akan kesalahan. Kenyamanan ketika kesalahan yang kita perbuat dalam pekerjaan tidak membuat kita takut untuk mengakuinya. Kenyamanan ketika kita bisa menanyakan sesuatu kepada teman atau bos kita tanpa takut itu dianggap sebagai kebodohan. Kenyamanan ketika teman-teman kita mendukung apa yang kita lakukan. Kenyamanan ketika kita sadar bahwa akan ada orang yang membantu kita dalam menyelesaikan pekerjaan bila kita kesulitan. Kenyamanan ketika kita tau bahwa kita dilindungi oleh perusahaan. Kenyamanan bekerja ketika kita tidak hanya melihat jam dan berharap segera tiba waktu untuk pulang, dan kenyamanan ketika kita tidak bekerja hanya untuk menantikan apa yang akan kita dapat di awal bulan….

Nyaman, ….it’s an ultimate word with an ultimate meaning for me…

anak-anak yang terbuangkah? Tuesday, May 15 2007 

hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu

hanya satu pintaku
tuk bercanda dan tertawa
di pangkuan seorang ayah

Mengutip lirik lagu dari Mocca…. berapa banyak di negara kita ini (untuk tidak membicarakan lingkup dunia) anak-anak yang mendendangkan keinginan seperti itu?

Mengiris hati bener melihat anak-anak sekecil itu tidur di dekapan seseorang yang tidak bisa mereka panggil ‘mama’ untuk diri mereka sendiri.

Menguras air mata sekali ketika mereka sakit, tidak ada belaian dari seseorang yang bisa mereka panggil ‘ibu’ untuk diri mereka sendiri.

Sebuah drama yang menyedihkan ketika mereka tidak bisa menuntut hak untuk bersekolah tinggi kepada seseorang yang bisa mereka panggil ‘papa’.

Mereka harus belajar untuk berbagi bahkan sejak mereka dilahirkan. Berbagi mama, berbagi papa, berbagi perhatian ibu, berbagi kasih sayang ayah. bahkan mungkin sebagian besar dari mereka tidak memiliki ayah, karena dalam lingkungan ‘rumah’ mereka hanya ada seorang ‘ibu’. Mereka harus belajar bersabar bahkan sejak mereka membuka mata. Bersabar karena ketika mereka haus, ‘ibu’ sedang memberikan minum kepada ’saudara kecil’ mereka yang lain. Bersabar ketika mereka sakit, ‘mama’ juga harus mengurusi ’saudara-saudara’ yang lain. Bersabar ketika mereka menangis ingin digendong, ‘ibu’ sedang memandikan ’saudara’ yang laen.

Mengapa masih saja ada mereka yang bernasib seperti ini?Bisakah kita menyebutnya sebagai anak-anak yang terbuang? anak-anak yang bahkan tidak diinginkan oleh orang tuanya sendiri, oleh ibunya sendiri…..Apa salah mereka harus memikul yang sedemikian itu?

apa bila ini
hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap
dan tak pernah terbangun

hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
di pangkuan ayah dan ibu

 

Perempuan apa? Friday, May 4 2007 

Pening hari ini baca 2 berita yang hampir sama dari detik.com.

Berita pertama tentang kematian bocah perempuan kecil, 2 thn, yang menurut pengakuan Ibunya karena sakit. Justru para tetangga yang merasakan ada kejanggalan pada kematian gadis kecil itu, karena mayatnya mengeluarkan air mata dan ada lebam di mulutnya. Ternyata, setelah diotopsi memang ada luka di bibir, tengkuk, tungkai dan vagina. Dan lebih parahnya, pihak kepolisian menengarai kalau ada penganiayaan di balik kematian ini yang juga menyangkut asuransi korban yang nilainya besar, warisan yang juga besar, karena memang ayah dari bocah itu sudah lebih dulu meninggal; dan perselingkuhan ibu korban.
Berita kedua juga tak kalah mengiris hati dan mnguras air mata (dan ini bukan hiperbola). Seorang Ibu bunuh diri dengan membakar diri setelah bercekcok dengan suaminya. Tidak sembarang bunuh diri, tapi Ibu ini ‘memaksa’ anaknya ikut bagian dalam rencananya itu. Anak yang masih 1 tahun dan 8 tahun. Si anak yang 1 tahun itu naas ikut meninggal bersama Ibunya. Yang lebih bikin hati panas adalah si anak yang 8 tahun, yang memang sudah lebih bisa berpikir tentang apa yang terjadi, berhasil menyelamatkan diri dari api. Tapi apa dia beruntung? sayangnya sangat tidak! ia menderita luka bakar 90%, tubuhnya melepuh dan terus mengeluarkan darah. Sekujur tubuhnya sekarang terbalut perban, dan hanya menampakkan mata yang sesekali terpejam (mungkin menahan sakit yang teramat) dan mulutnya saja. Perasaan sakit seperti apakah yang anak itu rasakan, kita ga akan pernah bisa untuk membayangkan. Sakit fisik, dan tentu saja sakit psikis. Dan mungkin kita tidak akan pernah bisa berempati pada rasa sakit yang ia rasakan, kita hanya bisa bersimpati.

Ada apa ini????dua peristiwa di atas sama-sama melibatkan perempuan yang berlabel Ibu sebagai tokoh aktif. Mungkinkah nilai dan pemaknaan kata Ibu yang selama ini digambarkan begitu tulus dan rela berkorban sudah terdegradasi? Atau mungkin, itu ‘hanya’ sebagai sebuah bentuk apologi karena ternyata Ibu juga seorang manusia yang tidak sempurna? Apapun itu, akal dan hatiku sangat terluka dengan peristiwa-peristiwa itu, yang mungkin hanyalah sebuah sampel dari rentetan peristiwa lain tentang hubungan Ibu dan anak di dunia ini.

mayday…mayday…(it’s supposed to be payday) it’s our day! Tuesday, May 1 2007 

1 Mei…that so called Mayday, International Labour Day….Yeaahh, it’s our day!!

Buruh juga manusia ya, so please donk, pay attention to our :

  • salary, tentu saja….Hidup jaman sekarang susah kan bos, semua serba mahal. Tolong donk kasih kita standar gaji minimal UMR. Itu seharusnya kan jadi batas minimal, karena UMR pastinya ditetapkan berdasarkan minimal living cost kita di daerah tempat kerja ini. Kalau kita dikasih kurang dari UMR, kita susah juga kan buat survive bos…
  • perhitungan over time…Buruh seperti kita ini sebenarnya menilai over time itu sebuah dilema. Di satu sisi, memang kewajiban kita kalau memang pekerjaan membutuhkan ekstra perhatian dan menyita lebih waktu kita yang seharusnya. Kita melakukan over time sebagai bentuk tanggung jawab kita atas pekerjaan yang bos limpahkan kepada kita. Tapi, tolong mengertilah juga bos….working over time menuntut ekstra tenaga dan pikiran, maka pikirkanlah timbal balik yang seimbang dengan menghitung itu dengan benar dan sesuai. Kalau bos menolak untuk mengikuti peraturan pemerintah itu, ya, setidaknya pakai nurani deh…sesuai kah yang Anda berikan…toh kami juga tidak meminta yang muluk2 atau berlebih.
  • jam kerja, kita bukan robot kan…dan kami juga pengen punya waktu sedikit lebih banyak dengan keluarga dan teman-teman kami.  Apalagi bagi kaum kami yang perempuan, kehidupan mereka hanya sekitar rumah dan tempat kerja saja. Bayangkan, apa yang bisa lagi mereka lakukan ketika mereka harus sudah meninggalkan rumah jam 7 pagi, dan sampai rumah lagi jam 5 sore. itu sudah 10 jam lo bos. Jadi mereka hanya punya waktu yang lain selama 14 jam. Dikurangi dengan jam tidur normal yang 8 jam, brarti sisa mereka untuk keluarga dan teman-teman mereka hanya 6 jam. Apakah 6 jam saja cukup untuk melayani suami dengan misalnya memasak. Melayani anak misal dengan bermain bersamanya, memandikan, menyuapi, membantu mengerjakan pe er. Sosialisasi dengan teman dan tetangga….ahhh, saya pikir itu tidak akan cukup. Tapi kami cukup menerima lo bos, hanya saja, pikirkan untuk tidak menambah jam kerja kami dari yang memang sudah ditetapkan pemerintah kecuali Bos bersedia memperhitungkan itu sebagai working over time dengan tentu saja, perhitungan yang sesuai juga seperti yang sudah kami ungkap di atas.
  • jaminan ketenaga kerjaan… terutama kesehatan. Wah mau ngomong apa kalo tentang yang satu ini…Sekiranya sudah sangat jelas siy….
  • ketentuan cuti….sip, kita berhak untuk cuti tahunan sebanyak 12 hari kerja. Alhamdulillah….bisa curi2 waktu untuk ‘keperluan’ yang lain. Mhh, tapi gimana buat yang dengan terpaksa tidak bisa ambil jatah cuti itu ya…saya denger ada kompensasinya lo bos. Gimana tu?
  • pesangon…adalah sesuatu yang bener-bener menjadi hak kami kan bos ketika perusahaan mem PHK kami dengan alasan apapun. Jadi cobalah untuk tidak mencari-cari celah untuk ‘merumahkan’ kami tanpa tidak perlu memberi pesangon. Kami sedih bos denger banyak cerita mengenai intrik2 ini. teman kami ada yang dirasa perusahaan ‘merugikan’(bisa jadi secara subyektif mungkin) kemudian sebisa mungkin menyingkirkan dia dengan suatu cara yang tidak perlu mengeluarkan pesangon. Seperti di mutasi ke daerah yang ‘pelosok’…atau dirumahkan dengan gaji 20% dari seharusnya tanpa batas waktu yang jelas sehingga posisi mereka mengambang. Di satu sisi, mereka tidak bisa berkarya di tempat lain secara maksimal karena status mereka masih milik Anda, tapi sisi lain mereka juga tidak mendapatkan kepastian dari Anda. Akan lebih parah lagi ketika ada teman kami yang menerima semacam teror atau kekerasan psikis di tempat kerja hanya untuk keinginan agar ia mau secara sukarela mundur dari tempat kerja nya karena tidak kuat lagi menerima kekerasan semacam itu. Oohh….betapa menyedihkannya nasib teman kami itu. Jangan lah bos, ada permasalahan seperti itu lagi…

ya, itu sekelumit saja dari kami…mumpung momen ini kami rasa pas untuk menyampaikan aspirasi kami dan sebagai reminder kepada Anda bos, bahwa buruh juga manusia….hehehehehe

menggauli bahasa….dari masa ke masa Thursday, Apr 19 2007 

Entah mau disebut sebagai sebuah distorsi…sebuah bentuk kreativitas…atau bahkan dilihat sebagai budaya tandingan

Inget ini kan….

malu NI YEEEE

DOI kan orang TAJIR

gua lagi JATUH CINTRONG ni

tu orang GOKIL bangeti

ihh, gayany kaya BENCONG

SUTRA lah bow….lupain aja KALI YEEE

OKE DEH KAKAK….

SO WHAT GITU LOWH….

hah, SUMPE LU?? KESIAN DE LU….

aku ga bisa, SECARA…..

CAPE DEEE….dan beragam variasinya

HYUUUUKKKK….

dan mungkin banyak yang bisa kasih tambahan untuk memperpanjanga daftar bahasa yang kemudian kita sebut sebagai bahasa GAUL ini…. Bahkan ada yang mpe nyusun kamus gaul (wask). Sapa siy ya sebenernya pelopor bikin bahasa2 yang kek gini….hehehehhehe

UN, yang bener-bener menjadi sebuah ujian…. Thursday, Apr 19 2007 

What is the hottest topic among the high scholl students now?hyuuukkk, Ujian Nasional. Sejak beberapa tahun lalu, tepatnya sejak ada ketentuan tentang nilai minimum kelulusan, mungkin bisa dibilang UN menjadi segalanya bagi murid2. Ga lulus UN berarti malapetaka sepertinya.

Kalau jaman dulu bisa dibilang mencari kelulusan itu gampang sehingga murid2 cenderung lebih mempersiapkan diri untuk yang namanya UMPTN. Ga berlaku de buat sekarang. Mereka pusing2 banget buat UN sekarang niy, pusing2 lagi de buat UMPTN (btw, sekarang namanya bukan UMPTN dink!n sekarang begitu banyak jalur untuk masuk PT dengan aneka ragam sebutan ujian)

back to UN (aku melarang diriku untuk ikut2an menjadi tukuler dengan kembali ke lapotop!!), sebenernya cukup signifikan or sudah layakkah pemberlakuan nilai minimum seperti sekarang ini?

Let see, UN sekarang bener2 menjadi satu2nya patokan kelulusan. Banyak kasus kan murid yang punya prestasi extra di luar pelajaran ga lulus? Ada berapa murid yang sebelum2nya termasuk ranking atas di sekolah tiba2 harus mengulang kelas lagi karena matematika mereka dapet 3, sementara sebenarnya rata-rata nilai mereka adalah 8,9? Lebih parah lagi, brapa kali denger berita tentang murid yang depresi, jadi gila or bunuh diri gara2 ga lulus UN?

Gimana siy sistem pendidikan kita ini?apa iya mau menuntut semua murid pinter matematika, kalau ternyata mereka sebenernya lebih berprestasi untuk bahasa inggris….apakah punya prestasi di bidang olahraga or kesenian tidak bisa dinilai sebagai kelebihan? OOhh, thank God aku mengalami masa ujian itu sudah lama sehingga ga terjebak di ketentuan yang seperti sekarang….

Yaahh, UN keknya hari ini selesai. We’ll see the result….n we’ll see what kind of controversy will come next….

how long is yours? Friday, Mar 30 2007 

weitsss…..jangan keburu mengembarakan pikiran n melanglangbuanakan bayangan!

I bet hampir semua dari kita menikmati pekerjaan dengan iringan musik, apalagi kalo musik yang diputer adalah lagu-lagu yang kita senengin or enjoyable n kita bisa ikutan berdendang (bahasa ndangdut banget), bekerja pasti lebih enjoyful (bagi yang ga bisa konsen kerja karna musik, ke laut ajah!)

Yang aku pengen tau, brapa lama siy playlist kamu di winamp/windows media player/realplayer bertahan?sebanyak itungan durasi playlist?sehari?3 hari?seminggu?ooppsss…adakah yang lebih dari seminggu?

Kalau kamu termasuk yang memutar the same playlist lebih dari seminggu….weww, bukan tipe pembosan ya? tipe setia ya? Mmhh…masak iya siy bisa disimpulkan begitu? mungkin klo dibilang bukan tipe pembosen, okelah…masih bisa diterima. Tapi klo kemudian dikategorikan sebagai tipe setia…ga yakin deeee…hehehehehhe. Lagi-lagi bolehlah dia bukan tipe pembosan, tapi yakin orang laen yang ikut dengerin (they take it for granted) ikutan ga bosen?mmhhh….I think you’d better think about it.

dannnn….mau nanya lagi, gimana siy kamu dengerin lagu2 itu? pake speaker?volume minimal?untuk didenger sendiri aja?volume besar?volume maksimal mpe semua orang (semua orang lo ya!) bisa menikmati?eh ralat, mpe semua orang bisa mendengar?or….pake headset?

Mungkin tipikal berheadset ini ya orang yang paling bertoleransi ke semua orang, karena dia ga yakin playlist yang dia puter bisa dinikmati semua orang…jadi paling aman untuk dinikmati sendiri.

Panjang dee, klo mau mbahas satu-satu…..karena bisa dijabarkan menjadi banyak kategori, such as

  1. dengan headset palylist bertahan seminggu
  2. dengan headset playlist bertahan 3 hari
  3. dengan speaker vol minimal palylist bertahan sehari
  4. dengan speaker vol besar playlist bertahan selama-lamanya…(gubraxx)

jadi ga penting banget kan kalo trus dibahas satu-satu?!hehehehhe

So, how long is yours?and how loud is yours?

Next Page »