Dear Magetan Friends….. Friday, Nov 30 2007 

Now is time for me to go and face something so I called new experience…I keep the bitter sweet memories with you guys, and I don’t think I even need a diary to keep it alive in my mind. The laugh, the anger, the objurgation, the rumor, the happiness, the friendship and so on….it’s been such a pleasure.

I know I’ve made lots of mistake, and Iam sorry for all the things I’ve said and done improperly to you all guys….

Honestly, a piece of my heart feels hard to leave especially when it reminds me of the friendship you’ve been giving to me since the first day I steped my foot here. But a piece of my logical tell me the opposite, and I guess it’s time for me to listen to my logical.

Dear friends,

Thank you for all the memories….the hands….the smile and laugh….the knowledge…the experience that enrich my heart and life….billion of thanks to you guys and Iam surely will miss you all….

my other guilty pleasure….. Thursday, Nov 29 2007 

Menyambung pembahasan tentang guilty pleasure yang kemarin, sebenarnya aku masih punya beberapa yang lain…(pengakuan dosa??!!)

  1. kadang-kadang (untuk tidak menyebutnya sering) buka2 sms di hape suami
  2. pernah dikasih password email suami, kemudian menganggap itu sebagai kepercayaan ‘terserah kalo mau buka2′ …:D Emang mbuka siy, tapi ga pernah baca2 emailnya, sekedar tau daftr inboxnya doank.
  3. pada suatu episode hidup, pernah pengen seperti orang2 yang langsing dan bening. tapi di episode yang lain merasa ‘iba’ karena berpikir pasti banyak sekali yang mereka keluarkan dan korbankan untuk menjadi seperti itu…dengan kata lain nyadar bahwa beatiful is pain…hihihihihi. Mungkin yang kedua itu lebih merupakan pembelaan diri ya…hahhahahaha
  4. banyak melewatkan waktu kerja di kantor untuk chatting, browsing….bebasssss
  5. kadang2 merasa bahagia ketika bisa melewatkan waktu untuk diri sendiri (iam sorry sweetheart..)
  6. menikmati acara gosip….hahahahhahaha

Sudah…cukup….enough…wadi ko dibuka2…heheheheheh

‘the come and go’ in marriage….. Saturday, Nov 24 2007 

Bila Anda termasuk orang yang berpikir dua kali atau bahkan berkali-kali untuk memasuki sebuah kehidupan bernama pernikahan, mungkin ‘cerita’ Saya ini bisa Anda baca.

“Saya merasa belum siap, pengeluaran untuk diri Saya saja sudah besar, apalagi harus menganggung keluarga?”

Itukah alasannya? Mmmhh, Saya punya cerita bahwa pada saat belum menikah Suami Saya memiliki penghasilan yang tidak seberapa yang bila dihitung secara matematis,sudah pasti tidak akan cukup untuk menghidupi dia sendiri selama sebulan. Untuk biaya kos saja sudah memakan banyak sekali post. Setelah menikah, pemasukan menjadi ada dua, dari dia dan Saya. Dan meski gaji Saya tidak naik2 (capek deee…) alhamdulillah perusahaan suami memberi apresiasi terhadap hasil kerjanya, dan perlahan-lahan meningkat. Usaha lain yang dikerjakan juga semakin baik. Jadi, Saya percaya Tuhan selalu memberi jalan yang seimbang bagi kita, apapun kebutuhan kita.

“Saya masih pengen punya waktu untuk bermain-main”

Bila itu alasannya….Memang, Anda akan kehilangan beberapa waktu untuk bermain-main atau menjalankan hobi Anda. Tap, Saya merasa mendapatkan ganti yang tidak lebih membosankan daripada bermain. Pulang kerja, saat tubuh dan pikiran capek, di saat dulu hanya bisa ngluyur ke sebuah tempat atau berkumpul dengan teman dan tertawa bersama, sekarang Saya bisa melihat sosok mungil yang menanti kepulangan Saya. Belum pernah rasanya ada orang yang menantikan kepulangan Saya seperti saat ini. Masih ada bonusnya lagi, bermain bersamanya ternyata tidak kalah menyenangkan dan menghibur hati, apalagi bisa melihatnya tertawa ceria…sepertinya tidak penting lagi permasalahan lain yang bikin pusing dan capek.

” Saya merasa sangat mandiri dan menikmati keadaan seperti ini”

Baiklah Anda orang yang mandiri. Tapi ternyata….ada orang yang mau membantu dengan rela segala yang kita lakukan, bisa mencurahkan hati dan keluh kesah kita sambil bersandar di dadanya, ada orang yang merasa ‘bertanggung jawab’ atas kebahagiaan dan tawa kita….rasanya sangat luar biasa…

Cukup tiga hal itu dulu…bila Anda masih punya hal lain yang membuat anda kembali pada pikiran untuk menjomblo, beritau Saya dan Saya akan mencoba bercerita kembali tentang episode hidup Saya yang lain.

Tentang pilihan….dan kadang, tentang kesempatan… Friday, Nov 16 2007 

Yup, bukankah lakon hidup ini juga tentang pilihan?

Bukan…bukan masalah kelahiran. Kita tidak bisa memilih kapan kita akan dilahirkan, dari rahim siapa kita keluar, dan dari sperma tangguh siapa kita berasal. Juga bukan tentang kematian. Kita juga tidak bisa memilih kapan raga kita siap atau ingin ditinggalkan oleh roh kita.

Ini tentang proses kehidupan……

Untuk menjadi mengerti, tidak melulu harus bersekolah. Sekolah adalah pilihan….Tetapi ketika ada tawaran mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri, itu adalah kesempatan. Kesempatan untuk berproses menjadi lebih mengerti. Dan Saya adalah orang yang pernah kehilangan (menghilangkan lebih tepatnya) kesempatan untuk proses itu, meski tidak se-menggiurkan beasiswa ke luar negeri. Dan meski tidak menyesali (maksudnya karena tidak ada gunanya menyesal) Saya pernah berimaji akan seperti apakah bila kesempatan kala itu Saya ambil.

Menikah, itu adalah sebuah pilihan. Apalagi dengan siapa kita akan menikah, lagi-lagi itu adalah pilihan. Mau pilih yang kaya atau ganteng atau pintar, baik hati, tidak sombong, semuanya pilihan. Tetapi ketika kita bertemu dengan seseorang dan menjadi nyaman bersamanya, itu adalah kesempatan. Kesempatan untuk berproses dan menemukan pasangan menikah. Kali ini Saya menjadi orang yang mengambil kesempatan itu. Saya pernah menjadi orang yang tidak terlalu memusingkan masalh pernikahan. Saya tidak akan gusar ketika usia sudah menginjak 26 tahun dan Saya belum menikah, bahkan Saya pernah berpikir bahwa pernikahan belum tentu membawa Saya kepada kebahagiaan. Tetapi, pada suatu saat Saya belajar bahwa menyia-nyiakan kesempatan mungkin akan kita sesali, jadi Saya ambil kesempatan untuk berproses dengan seseorang menuju sebuah pernikahan. Dan hasilnya….memuaskan!Mungkin bila disejajarkan dengan kesempatan pertama tentang sekolah, Saya menikmati nilai IPK diatas 3 untuk tidak jumawa dan kepedean dengan menyebutkan bahwa Saya cum laude.

Pekerjaan….adalah sebuah pilihan ketika kita tidak lagi merasa nyaman di dalamnya, dan kita memilih untuk beranjak dan mencari kesempatan yang lain. Itulah yang Saya lakukan. Dan ketika kesempatan itu ada, meski keyakinan masih tertahan….Saya tetap akan mencobanya. Doakan Saya……

Ayla tumbuh gigi!! Friday, Jun 29 2007 

Agak telat siy, karena umurnya dah hampir 9 bulan awal bulan depan…but i never worried about that coz I know it’s juz a matter of time! And….yesterday was the time!!Ya, ayla numbuh satu gigi di bawah kemaren, masih kecil siy nongolnya…but there will be one more soon karena udah berasa kasar2 di gusinya….Hehehehe,cuuute!!

a simple word named ‘comfort’ Tuesday, Jun 12 2007 

jogja berhati nyaman….dengan mengabaikan bahwa itu adalah sebuah slogan akronim (tipikal orang Indonesia, suka akronim…bersih, sehat, indah, dan nyaman), it sounds really good to my ears

Semua yang kita lakukan, semua yang kita hadapi, semua yang kita rasakan, semua yang kita kejar…..terasa menyenangkan, enjoyable, indah….kalau kita merasa nyaman. I guess it’s a center of any hilarious.

Kenyamanan dalam sebuah hubungan. Dimana pasangan kita membuat kita merasa bisa berbagi apa saja, entah kebahagiaan, kesedihan, sisi gelap diri kita, cerita tentang sekitar kita, bahkan utnuk sekedar memberi tahunya kalau kita baru saja kentut. Kenyamanan ketika pasangan kita membuat kita merasa diterima tidak saja olehnya, tapi juga lingkungannya. Kenyamanan ketika pasangan kita meyakinkan kita bahwa penampilan kita tidak memalukan baginya, ketika pasangan kita membangun percaya diri kita, dan bukan meluluhkannya. Kenyamanan ketika ketidaktahuan kita tidak membuat kita merasa bodoh dihadapan pasangan kita. Kenyamanan ketika kita merasa bisa bertanya apa saja kepada pasangan kita tanpa merasa takut, mengintimidasi, atau khawatir akan munculnya kemarahan. Kenyamanan yang membuat kita selalu merasa aman bersamanya…..

Kenyamanan dalam pekerjaan. Dimana kita tidak pernah merasa terpaksa dalam mengerjakan tugas kita. Kenyamanan ketika kita bisa mengeluarkan eksistensi dan tanggung jawab kita tanpa takut akan kesalahan. Kenyamanan ketika kesalahan yang kita perbuat dalam pekerjaan tidak membuat kita takut untuk mengakuinya. Kenyamanan ketika kita bisa menanyakan sesuatu kepada teman atau bos kita tanpa takut itu dianggap sebagai kebodohan. Kenyamanan ketika teman-teman kita mendukung apa yang kita lakukan. Kenyamanan ketika kita sadar bahwa akan ada orang yang membantu kita dalam menyelesaikan pekerjaan bila kita kesulitan. Kenyamanan ketika kita tau bahwa kita dilindungi oleh perusahaan. Kenyamanan bekerja ketika kita tidak hanya melihat jam dan berharap segera tiba waktu untuk pulang, dan kenyamanan ketika kita tidak bekerja hanya untuk menantikan apa yang akan kita dapat di awal bulan….

Nyaman, ….it’s an ultimate word with an ultimate meaning for me…

seandainya manusia diciptakan knock down… Monday, Jun 4 2007 

the second writing with the same subject….

Pertama, aku pengen mencopot kepalaku, mereparasinya supaya pening ini bisa hilang atau setidaknya berkurang.

Lalu tangan-tanganku. Sama saja,  supaya bisa melemaskan otot-otot di dalamnya tanpa harus merasa pegal2.

Kakiku….yang selalu menahan beban tubuhku yang ternyata tidak cukup ringan untuk ukuran ‘normal’ di dunia ini. I’m not zero size, not even 3 probably! Yah, memang aktivitasnya sebenarnya tidak sebanyak tangan-tanganku, tapi tetap saja mereka sering terasa kaku-kaku dan kram kadang-kadang.

Pundak dan punggung, ooohh….ini sepertinya sumber dari segala bentuk ketidaknyamanan fisik yang sering kurasakan. Seandainya mereka bisa dipreteli dari tubuhku dulu….dimanjakan dengan pijatan dan treatment yang lain dan kembali menyatu dengan tubuhku pada saat semua sudah fixed.

Mmhhh…..

aku….setahun yang lalu Saturday, May 26 2007 

26 Mei 2006

Jumat ini seperti hari-hari biasa. Lagi-lagi aku merasa mabok dan perutku makin membesar saja. Lucu, karena ternyata aku masih muat dengan pakaian2 lamaku dari jaman sebelum menikah. Everything as ‘normal’ as others day. Bangun pagi dengan telernya, dimana selalu suamiku yang menyediakan minuman pagi…teh anget. Beranjak ke mar mandi, the place I hate the most during my pregnancy. Mengeluarkan isi perut, yang sebenernya masih cukup kosong karena aku belum lagi menelan apapun. Yah, cukuplah membasuh tubuh seadanya untuk sekedar syarat bahwa aku pergi kerja dengan mandi.

Di kantor, sama saja. Tidak ada sesuatu yang menampakkan perubahan berarti. Hanya saja pagi ini aku membawa kardus susu hamilku yang baru dibeli semalam. Aku berniat mengkonsumsi susu ini karena sadar tidak cukup gizi yang aku asupkan ke dalam tubuh janinku karena rasanya hampir semua makanan ditolak oleh pencernaanku saat ini. Ya, susu ini kubawa ke kantor dengan harapan aku bisa meminumnya dalam keadaan dingin seperti es untuk mengurangi rasa eneg.

Sore hari, semunya serba rutin dan tertebak…Aku harus menunggu beberapa saat di luar kantor sebelum suamiku datang menjemput. Bahkan nampaknya semua satpam di kantor ini hapal aku selalu menjadi orang terakhir yang menunggu di luar.

Malam hari, lagi-lagi kami harus berpikir keras akan makan apa malam ini. Aku sudah menghentikan aktivitas memasakku setelah janin di perutku ini sepertinya menolak aroma2 bumbu2 itu. Lebih dari itu, aku sudah hampir tidak pernah menginjakkan kakiku ini di dapur kos kecuali untuk sekedar mencuci gelas yang hanya 2 biji.

Hal yang paling aku suka adalah tidur. Bahkan aku tidak lagi berminat pada televisi. Maka aku memutuskan untuk tidur setelah makan dan hanya tersadar sebentar ketika melihat suamiku ikut beringsut ke kasur setelah matanya lelah di depan televisi.

27 mei 2006

Pagi ini aku bangun lumayan lebih pagi dari biasanya. 05.30. Cepat2 mengeluarkan muatan kemihku dan berwudlu. Tidak perlu berlama-lama berada di kamar mandi, the place I hate the most pada saat ini. Setelah selesai sholat, aku membangungkan suamiku. Seperti biasa, perlu waktu extra untuk membuatnya beranjak dari kasur di pagi hari. Tapi ini sudah hampir jam 06.00, 05.50 tepatnya, jadi mau ga mau aku harus memaksanya lebih keras sampai akhirnya dia menuju kamar mandi dengan aktivitas yang pasti sama dengan yang aku lakukan sebelumnya. Entah kenapa, ia memutuskan untuk solat di ruang tamu, bukan di kamar seperti biasa. Dan seperti biasa, setelah bangun untuk sholat, aku kembali ke tempat favoritku, kasur, untuk bermalas2an sambil melawan rasa mual.

Sepertinya suamiku baru saja selesai mengenakan sarung, ketika tiba2 aku merasa kasurku ini terguncang. Aku cepat tersadar kalo ini gempa!Aku segera berlari ke ruang tamu dan mendapati suamiku sedang berusaha untuk membuka kunci pintunya. Semakin lama goncangan ini semakin keras saja, sampai rasanya sulit sekali melangkahkan kaki untuk menuju udara bebas. Ya Tuhan, belum pernah selama hidup aku merasakan yang seperti ini.

Seketika itu terbersit kilatan2 wajah2 orang yang aku sayangi….termasuk wajah seseorang yang belum pernah aku lihat dan tidak tau seperti apa wajahnya. Ya, janinku….Ya Tuhan, mudah-mudahan ia cukup kuat untuk berlari bersamaku, dan ia cukup kuat untuk menahan lapar selama beberapa waktu karena ternyata, keadaan lebih parah dari yang aku duga. Tidak ada warung yang buka, dan bahkan ternyata begitu banyak korban yang berjatuhan. Di jalanan aku melihat sendiri beberapa rumah rubuh, orang2 berselimut debu2. tapi untungnya aku tidak bertemu dengan korban yang bersimbah darah. Aku hanya tau bahwa memang ada korban seperti itu lewat suamiku ketika ia melintas ke arah jalan rumah sakit untuk mencarikan air minum buatku, karena galon di kos tumpah ruah karena goncangan.

Peristiwa ini bener-bener membuat shocked, tapi terima kasih Tuhan Engkau menggoncang bumiku di pagi hari ketika orang-orang sudah mulai terbangun dan belum pergi beraktivitas di luar rumah (kecuali beberapa tentu saja). Terima kasih Tuhan aku melalui ‘peringatanMu’ bersama orang tersayang. Aku bahkan tidak berani untuk ditinggalkan sekedar mengecek keadaan kamar. Baru kali itu aku merasakan ketakutan akan kehilangan yang teramat. Terima kasih Tuhan Engkau masih melindungi semua keluargaku meski ada yang terluka dan tempat tinggalnya retak dimana-mana. Terima kasih Tuhan….

26 mei 2007

Sudah hampir satu tahun sejak kejadian itu berlalu, dan akan selalu menjadi ‘moment in my life’….Tapi kenapa?kenapa masih saja ada orang-orang yang harus tinggal di tenda karena rumah mereka hancur?kenapa masih ada orang-orang yang terluka karena tidak mendapat pertolongan yang maksimal? Aku tidak menyalahkanMu Tuhan….AKu hanya bertanya, kenapa aku punya pemerintah yang ‘tidak jelas’. Kenapa aku tinggal di negara yang punya sisi buram banyak sekali untuk rakyatnya….Kenapa Tuhan?

conversation with my ego Thursday, May 17 2007 

how’s life?

Good, life is so unpredictable but I hope in the end it’s right…A friend of mine told me that we just have to be patient, and a man of mine told me that we just have to be grateful. Yeah….agree

Complete?

Sure, I got family of my own…all are in a good health

What’s your fave moment?

Seeing my girl smiles when she wake up from tight-sleep. She’s juz sooo simply beautiful and peace

What is you hate from yourself? 

absolutely, temper….and a good complainer

What is you love the most from yourself?

It’s everytime I feel that I could be patient enough…:D

Are you feeling good about yourself?

Damn, yes!! hahaha….

What is so annoying now?

being in the office on national holiday when I actually have another plan with ma fam….sigh!

anak-anak yang terbuangkah? Tuesday, May 15 2007 

hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu

hanya satu pintaku
tuk bercanda dan tertawa
di pangkuan seorang ayah

Mengutip lirik lagu dari Mocca…. berapa banyak di negara kita ini (untuk tidak membicarakan lingkup dunia) anak-anak yang mendendangkan keinginan seperti itu?

Mengiris hati bener melihat anak-anak sekecil itu tidur di dekapan seseorang yang tidak bisa mereka panggil ‘mama’ untuk diri mereka sendiri.

Menguras air mata sekali ketika mereka sakit, tidak ada belaian dari seseorang yang bisa mereka panggil ‘ibu’ untuk diri mereka sendiri.

Sebuah drama yang menyedihkan ketika mereka tidak bisa menuntut hak untuk bersekolah tinggi kepada seseorang yang bisa mereka panggil ‘papa’.

Mereka harus belajar untuk berbagi bahkan sejak mereka dilahirkan. Berbagi mama, berbagi papa, berbagi perhatian ibu, berbagi kasih sayang ayah. bahkan mungkin sebagian besar dari mereka tidak memiliki ayah, karena dalam lingkungan ‘rumah’ mereka hanya ada seorang ‘ibu’. Mereka harus belajar bersabar bahkan sejak mereka membuka mata. Bersabar karena ketika mereka haus, ‘ibu’ sedang memberikan minum kepada ’saudara kecil’ mereka yang lain. Bersabar ketika mereka sakit, ‘mama’ juga harus mengurusi ’saudara-saudara’ yang lain. Bersabar ketika mereka menangis ingin digendong, ‘ibu’ sedang memandikan ’saudara’ yang laen.

Mengapa masih saja ada mereka yang bernasib seperti ini?Bisakah kita menyebutnya sebagai anak-anak yang terbuang? anak-anak yang bahkan tidak diinginkan oleh orang tuanya sendiri, oleh ibunya sendiri…..Apa salah mereka harus memikul yang sedemikian itu?

apa bila ini
hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap
dan tak pernah terbangun

hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
di pangkuan ayah dan ibu

 

Next Page »