Mahalnya Sebuah Kematian Tuesday, Jul 10 2007 

Semua kehidupan akan berakhir dengan kematian. Sesuatu yang tidak bisa bisa terduga kapan akan datang, tapi pasti datang…Perlukah kita mencemaskan kematian?Aku kira wajar bila kita takut akan hal itu, mengingat betapa mudahnya berbuat dosa dan sulitnya mengoleksi pahala (meskipun senyuman bisa berarti pahala, tapi apakah pahala kita itu seimbangan dengan dosa kita?mmhh….worried mood: on) dan mengerikannya gambaran tentang alam setelah kematian bila ternyata memang timbangan dosa kita lebih berat.

Dalam kaitan dengan dunia, kematian sebernarnya adalah putusnya hubungan dengan urusan keduniawian. Kita tidak bisa lagi mencemaskan pendidikan anak kita, kita tidak perlu lagi khawatir dengan pekerjaan kita yang masih menumpuk, kita tidak perlu lagi peduli dengan gunjingan tetangga, dan lain-lain. Tapi….bagaimana dengan orang-orang yang kita tinggalkan?ternyata, kematian kita tetap saja masih bisa menyisakan ‘beban’ bagi mereka. Dan ‘beban’ yang akan aku soroti kali ini adalah ‘beban yang paling sederhana’ yaitu pemakaman.Ternyata….the power of money masih tetap saja ada sampai kematian.

Berapa kali membaca orang-orang yang kesusahan membayar biaya pemakaman?seperti untuk membeli tanah 2meter persegi itu….sekarang harga tanah makin gila karena memang keberadaannya yang makin sulit ditemukan. Lihat di sini sebagai contoh bagaimana kematian bisa ‘ditukar’ dengan kehidupan. Belum lagi untuk sebuah budaya atau kepercayaan, seperti upacara Ngaben di Bali. Upacara pembakaran mayat yang dipercaya untuk melepaskan roh menuju nirwana. Proses upacara yang panjang dan memakan biaya itu membuat beberapa mayat harus menunggu sampai beberapa waktu untuk upacara tersebut. Bahkan di perkembangan sekarang, penantian itu pun berbuah dengan pembakaran massal agar biaya bisa lebih murah, karena ada informasi biaya yang dibutuhkan bisa mencapai 30 juta. Contoh lain adalah upacara pemakaman di Toraja yang membutuhkan biaya jauh lebih besar, karena pemakaman dilakukan di atas tebing. Menurut kepercayaan mereka semakin tinggi tebingnya, semakin cepat roh bertemu dengan Tuhan atau surga. Paket upacara itu adalah dengan disembelihnya hewan (bisa sampai ratusan ekor untuk bangsawan), peti lapis emas yang beratnya minta ampun, belum lagi bahwa harta-harta bergerak milik orang yang sudah meninggal itu harus dikburkan bersamaan dan tidak boleh diwariskan kepada keluarganya.  Semua prosesi itu bisa mencapai waktu 3 hari sampai 2 minggu.

Betapa sebuah kematian ternyata masih saja bisa membutuhkan uang…..

Presenting my “online diary”….. Friday, Jul 6 2007 

Ga nyangka juga kalo posting-anku tentang “kom on blog” di milis kom 98 terus menuai tanggapan beragam n menarik tentang blog. Jadi meresapi apa yang dibilang Ragil bahwa ada pendapat yang bilang bahwa blog adalah a precise mirror of narcissism dengan menampilkan ‘kegiatan’ harian penulis. Tapi benarkah aku adalah seorang yang narsis ketika aku bercerita bahwa ayla tumbuh gigi, bahwa aku merasa sedang capek? mmhh…rasanya aku keberatan dengan sebutan narsis itu meski aku setuju bahwa tulisan2 di blog ini berisi ‘kegitan’ harianku, baik kegiatan tubuh jasmaniku maupun kegiatan otak dan hatiku. Kegiatanku yang bisa berisi tentang aktivitas fisikku, pemikiranku tentang suatu hal, perasaanku tentang suatu hal…Ya, this weblog is my online diary dimana aku bisa shouting my mind….tentang apapun! But, I don’t think Im being narcist with it…:D

Mensyukuri keberadaanmu…. Thursday, Jul 5 2007 

Melihat sekitar…..

Ternyata banyak hal yang patut disyukuri, dari hal yang paling sederhana sampai hal yang paling kita anggap complicated.  Sumtimes aku baru bisa mengingat untuk bersyukur bahwa aku punya dua mata yang bisa melihat warna-warna dunia ketika aku melihat orang buta. Waktu yang lain aku baru tersentil untuk mensyukuri bahwa aku masih mengenal keluarga dan memberikan keluarga untuk anakku  ketika tau sebagian orang mempertanyakan keberadaan ayah dan ibu mereka.

Dan….

Kali ini untuk kesekian kalinya aku mensyukuri hal lain….. Keberadaanmu…..Ya, kesekian kalinya aku mensyukuri keberadaanmu.

Mendengar cerita bahwa seseorang merasakan kesendirian atas pasangannya mengingatkanku untuk bersyukur bahwa aku selalu bisa mengandalakanmu untuk apa pun dan kapan pun. Mengetahui bahwa seseorang merasa inferior atas pasangannya mengingatkanku untuk bersyukur bahwa aku bisa berbagi apa saja tentang permasalahanku di dadamu. Bersyukur karena aku bisa mempercayakan pekerjaan yang seharusnya menjadi kewajibanku kepadamu tanpa merasa takut akan rasa bersalah, takut akan ketidakikhlasanmu atau takut akan menerima kemarahanmu.

Sekarang…..tidak ada perasaan lain yang kurasakan selain rasa bersyukurku akan keberadaanmu disini. Terima kasih sayank….untuk lagi-lagi membuka hatiku betapa ternyata menakjubkannya kehidupan itu….