Pening hari ini baca 2 berita yang hampir sama dari detik.com.
Berita pertama tentang kematian bocah perempuan kecil, 2 thn, yang menurut pengakuan Ibunya karena sakit. Justru para tetangga yang merasakan ada kejanggalan pada kematian gadis kecil itu, karena mayatnya mengeluarkan air mata dan ada lebam di mulutnya. Ternyata, setelah diotopsi memang ada luka di bibir, tengkuk, tungkai dan vagina. Dan lebih parahnya, pihak kepolisian menengarai kalau ada penganiayaan di balik kematian ini yang juga menyangkut asuransi korban yang nilainya besar, warisan yang juga besar, karena memang ayah dari bocah itu sudah lebih dulu meninggal; dan perselingkuhan ibu korban.
Berita kedua juga tak kalah mengiris hati dan mnguras air mata (dan ini bukan hiperbola). Seorang Ibu bunuh diri dengan membakar diri setelah bercekcok dengan suaminya. Tidak sembarang bunuh diri, tapi Ibu ini ‘memaksa’ anaknya ikut bagian dalam rencananya itu. Anak yang masih 1 tahun dan 8 tahun. Si anak yang 1 tahun itu naas ikut meninggal bersama Ibunya. Yang lebih bikin hati panas adalah si anak yang 8 tahun, yang memang sudah lebih bisa berpikir tentang apa yang terjadi, berhasil menyelamatkan diri dari api. Tapi apa dia beruntung? sayangnya sangat tidak! ia menderita luka bakar 90%, tubuhnya melepuh dan terus mengeluarkan darah. Sekujur tubuhnya sekarang terbalut perban, dan hanya menampakkan mata yang sesekali terpejam (mungkin menahan sakit yang teramat) dan mulutnya saja. Perasaan sakit seperti apakah yang anak itu rasakan, kita ga akan pernah bisa untuk membayangkan. Sakit fisik, dan tentu saja sakit psikis. Dan mungkin kita tidak akan pernah bisa berempati pada rasa sakit yang ia rasakan, kita hanya bisa bersimpati.
Ada apa ini????dua peristiwa di atas sama-sama melibatkan perempuan yang berlabel Ibu sebagai tokoh aktif. Mungkinkah nilai dan pemaknaan kata Ibu yang selama ini digambarkan begitu tulus dan rela berkorban sudah terdegradasi? Atau mungkin, itu ‘hanya’ sebagai sebuah bentuk apologi karena ternyata Ibu juga seorang manusia yang tidak sempurna? Apapun itu, akal dan hatiku sangat terluka dengan peristiwa-peristiwa itu, yang mungkin hanyalah sebuah sampel dari rentetan peristiwa lain tentang hubungan Ibu dan anak di dunia ini.
May 4, 2007 at 6:49 am |
tragedy! morale derivation. speechless…
May 5, 2007 at 2:01 am |
kan tdk semua perempuan seperti itu…masih banyak perempuan yang punya hati nurani yang baik…mungkin lagi gelap mata aja…
May 5, 2007 at 2:13 am |
@Syaiful
aku juga perempuan, dan aku juga seorang ibu. Aku tau bener gimana kadang kala emosi seorang ibu menghadapi anaknya (dalam hal ini emosi yang ‘negatif’), karena toh ya benar, kita juga cuma manusia. Tapi, segelap apapun mata dan hati tiu, tetep aja akal dan hatiku sebagai seorang peempuan berlabel ‘Ibu’ tidak bisa menerima ‘permakluman’ atas kejadian di atas.
May 5, 2007 at 3:35 am |
aku berani bertaruh kalo ibu itu sedang kerasukan setan. kalo sedang normal manusia aku rasa tidak mungkin seorang ibu berbuat spt itu.
May 7, 2007 at 2:38 am |
harusnya judul postingnya bukan PEREMPUAN APA? tapi PEREMPUAN APAAN?
May 7, 2007 at 2:41 am |
@Syaiful#5
Emang sengaja kok mas, klo perempuan apaan kesannya lebih kasar soalnya…
May 9, 2007 at 3:02 am |
update…
i dunno, somehow I feel more releaved to know that this poor little boy has finnaly over from his suffer. He’s died n burried next to his mom n little bro….Am i wrong to have such a feeling?
May 12, 2007 at 2:09 am |
I just want to say :
Innalillahi wa innailaihi roji’un
May 15, 2007 at 2:25 am |
2 Kasus Yang Berbeda
Ada 2 kasus yang berbeda di sini. Kasusnya kebetulan aja ibu – anak. Tidak menutup kemungkinan bisa bapak – anak. Jadi judul perempuan apa or apaan sebenarnya kurang pas karena kebetulan aja. Mungkin kasus kebetulan ini terkait dengan perempuan yang cenderung emosional, walau ada juga lho perempuan yang rasional serasional laki2 or malah lebih rasional dari laki2.
Kasus I menyangkut keserakahan manusia akan harta (asuransi & warisan yang besar). Kasus II menyangkut emosi. Kalo aja lebih pake rasio, mungkin kasus II ini tidak terjadi. Manusia diberi rasio, pakai donk. Jangan hanya emosi aja yang dipakai. Belajarlah mengendalikan diri. Self-control itu penting. Kalo kita masing2 bisa mengontrol diri kita & sikap kita maka dunia ini niscaya akan jauh lebih baik, tenang, & damai. Iya ngga? Selamat mengendalikan diri & menggunakan rasio lebih dari menggunakan emosi.
Please visit the following:
The Greatest Inspirations, ISBN: 1-55306-642-1
http://cipthawacana.blogspot.com/2007/02/referensi-buku.html
Courageous, Considerate, & Creative Cooking, ISBN: 1-55306-877-7
http://cipthawacana.blogspot.com/2007/04/courageous-considerate-creative-cooking.html
You are most welcome to post some comments or thoughts or ideas or anything else there, to invite others to participate, to share with others, & to have fun there. Enjoy!
Thank you. Xie xie. Danke, Gracias. Grazie. Merci. Terima kasih.
May 15, 2007 at 2:26 am |
Secrets of Inner Peace
J. Donald Walters
1.Self-control; not scattering your energies, but holding them in check and directing them usefully.
2.Giving full, interested attention to everything you do.
3.To live fully in the moment, releasing past and future into the cycles of eternity.
4.Inner relaxation – physically, emotionally, mentally, then spiritually.
5.Non-attachment; being ever conscious that nothing and no one truly belongs to you.
6.Contentment; consciously holding happy thoughts.
7.Desirelessness; realizing that happiness is within you, not in outward things or circumstances.
8.Accepting things as they are, and then, if necessary, acting calmly and cheerfully to improve them.
9.Realizing that you cannot change the world, but you can change yourself.
10.Cultivating harmonious friendships, and shunning the company of peaceless persons.
11.Projecting peace outward into your environment.
12.A simple life; reducing your definition of “necessities”.
13.A healthy life: exercising regularly, eating properly, and breathing deeply.
14.A clear conscience; remaining true to your highest ideals.
15.Acting in freedom, from your inner center, and not in bondage to the world’s demands.
16.Accepting truth, in all circumstances, as your guide.
17.Not coveting what others have, but knowing that what is yours by right will find its way to you.
18.Never complaining, but acknowledging that what life gives you depends on what you give, first, of yourself.
19.Accepting responsibility for your failures, and realizing that only your can turn them into successes.
20.Found in self-conquest, not in the mere cessation of hostilities.
21.Practicing willingness, even though your mental habits urge you to cry,”No!”
22.Smiling in your heart, even when others scowl.
23.Giving joy, rather than demanding joy of others.
24.Including others’ well-being in your own.
25.Harmlessness; never deliberately hurting anyone.
26.Working with others, never against them.
27.Meditation and tapping the wellsprings of soul-peace.
28.Raising your consciousness: directing energy to the brain, then centering it at the seat of higher awareness between the eyebrows.
29.Self-acceptance: not blinding yourself to your faults, nor hating yourself for them, but claiming your higher reality in Infinite Light.
30.Loving God and striving to be worthy of His love for you.
31.Loving others impartially, without selfish motive.
Please visit the following:
The Greatest Inspirations, ISBN: 1-55306-642-1
http://cipthawacana.blogspot.com/2007/02/referensi-buku.html
Courageous, Considerate, & Creative Cooking, ISBN: 1-55306-877-7
http://cipthawacana.blogspot.com/2007/04/courageous-considerate-creative-cooking.html
You are most welcome to post some comments or thoughts or ideas or anything else there, to invite others to participate, to share with others, & to have fun there. Enjoy!
Thank you. Xie xie. Danke, Gracias. Grazie. Merci. Terima kasih.