Membayangkan kata sensor…..yang ada di kepala adalah hal-hal yang ‘dianggap’ tidak layak untuk tayang, baik dalam bentuk tulisan, foto, gambar bergerak, suara, whatever… Tidak akan kubicarakan tentang apa guna sensor, bagaimana persyaratan suatu hal harus kena sensor……ribettttt. Im just wondering about the people yang dipilih untuk melakukan sensor, dalam hal ini sensor untuk film yang kaitannya dengan hal yang dianggap bisa bikin greeennngggg oleh orang-orang yang akan menikmatinya nanti.
Seperti apa ya syarat tukang sensor itu? Mereka kan sebagai penyaring informasi ke masyarakat luas, jadi mereka sudah melihat, mendengar ’sampah-sampah’ informasi sebelum dibuang. jadi orang-orang seperti apa ya yang dipilih sebagai tukang sensor?Naaah, apakah mungkin ya mereka adalah orang-orang yang gampang merasa terangsang oleh suatu adegan syurr (yucks, bahasanya!!), jadi parameter mereka adalah klo mereka memang terangsang, brabti adegan itu harus disensor untuk menghindari masyarakat punya reaksi yang sama dengan mereka?hihihihihi. Mmhh…atau justru orang-orang itu adalah orang-orang yang ampuh, artinya mereka yang tahan godaan. jadi adegan apapun ga akan ngaruh ke area sensitif mereka, tapi mereka merasa wajib melindungi masyarakat lain yang mungkin tidak se’suci’ mereka?
Mmhh, manakah dari dua kategori itu yang lebih subjektif?hahahahahha…….itu sekedar kategori ngawurrrr!! Buat para tukang sensor, maafkan ya…..Itu tadi hanya sekedar pikiran cetek dariku sing ora mudheng bab sensor mensensorrrr……